Rabu, 27 Maret 2019

Batik Semarang


Motif Batik Semarang

Semarang, sebagai ibuKota Propinsi Jawa Tengah, belum pernah mendeklarasikan diri secara resmi tentang kekayaan budayanya dalam bidang batik. Padahal, Semarang memiliki warisan budaya batik yang telah menempuh lintasan sejarah yang panjang, sehingga telah mengalami kristalisasi nilai-nilai serta ciri-ciri yang khas dan unik. Sebelum menelusuri jejak-jejak sejarah batik Semarang, perlu diperjelas batasan pengertian batik Semarang.

Batik Semarang adalah batik yang dipro- duksi oleh orang atau warga Kota Sema- rang, di Kota Semarang, dengan motif atau ikon-ikon Kota Semarang

Batik Semarang lahirkan sejalan dengan kebutuhan dari orang-orang dari Hyderabad akan bahan dengan motif atau gaya baru yang berdasar-kan pada rasa, niat, dan kreatifitas dari pembuat nya.

Motif Batik Semarang

Secara umum dapat diidentifikasi bahwa ciri-ciri motif  batik Semarang tidak berbeda jauh dengan batik di Kota-Kota pesisir utara Pulau Jawa. Ciri-ciri yang dapat diidentifikasi adalah: bebas atau tidak pada aturan-aturan tertentu, ragam hias flora dan fauna, ragam hias besar dan tidak rinci, serta warna cerah menyolok. Motif batik Semarang dengan batik Pesisir lainnya, namun jika terkait dengan teliti, ada juga detail perbedaannya. Perbatasan itu dapat dilihat pada dua hal. Pertama, warna dasar batik. Pada umumnya batik Semarang berwarna dasar oranye kemerahan, batik Demak berwarna coklat muda, dan batik Kudus berwarna dasar biru (Heringa & Harmen, 1997: 103). Kedua, motif batik dengan pengaruh budaya Cina. Pada umumnya batik Semarang menampilkan motif fauna yang lebih menonjol dari pada flora, seperti: merak, kupukupu, jago, cendrawasih, burung phunix, dan sebagainya. Motif-motif ini tidak terlepas dari pengaruh budaya Cina. Batik di Kota-Kota pesisir lainnya, seperti Pekalongan, lebih menonjolkan motif flora, seperti: buket, lung-lungan, bunga cempaka, dan sebagainya. Tampaknya, unsur budaya Eropa ikut menentukan dalam pembentukan motif batik Pekalongan, karena di Kota itu pada paroh kedua abad ke-19 pernah berdiri banyak perusahaan batik yang dikelola oleh orang Eropa, seperti: L. Meetzelaar, Christina van Zuylen, Wollweber, J. Jans, dan lain-lain. Seperti kita ketahui bahwa orang Eropa, khususnya Belanda, selalu mengatakan cinta dengan bunga (say love with flower), sehingga konsepsi ini pun tertuang dalam desain-desain motif batik Pekalongan.

Ciri-ciri motif batik Semarang dapat disimak juga melalui penuturan Ibu Jamini, seorang sesepuh di Kampung Batik. Menurutnya, dulu banyak warga Kampung Batik melakukan kegiatan membatik dengan motif-motif yang sesuai dengan kehendak perajin sendiri. Jadi, mereka membatik tanpa motif yang baku seperti di daerah Surakarta dan Yogyakarta. Dulu, orang Semarang membatik untuk dipakai sendiri. Dengan demikian motif batik Semarang tergantung pada keinginan, imajinasi, ekspresi, dan kreasi pembatik. Rakyat Semarang tidak pernah membakukan motif dan nama batik seperti batik di vorstenlanden (Surakarta dan Jogjakarta).

Pada umumnya, orang Semarang tempo dulu membatik dengan motif
yang bersifat naturalistik (fauna dan flora) serta realistik (ikan, kupu-kupu, burung, ayam, bunga, pohon, bukit, dan rumah), tidak simbolis seperti batikbatik di Surakarta dan Jogjakarta. Dari penelitian dapat diketahui bahwa motif naturalistik dan realistik menjadi ciri khas batik yang diproduksi oleh masyarakat pesisir utara Jawa. Ciri ini dapat dimaknai sebagai karakter
masyarakat pesisir yang lebih terbuka, bebas, dan lebih ekspresionis jika dibandingkan dengan masyarakat pedalaman Jawa (Surakarta dan Jogjakarta) yang lebih dilingkupi oleh sistem simbol, norma-norma, dan aturan-aturan di bawah kekuasaan raja.


Nilai Filosofis Batik Semarang

Berdasarkan penuturan Slamet Sutarno (sekarang sudah wafat), pensiunan pegawai RRI Semarang, orang-orang Semarang tempo dulu sangat menyukai motif burung merak dengan latar perbukitan dan pohon bambu (Wawancara dengan Slamet Sutarno, 25 Maret 1998). Setelah diteliti lebih mendalam, ternyata motif ini merupakan pengaruh dari kebudayaan Cina yang
mempercayai bahwa burung merak dan bambu memiliki nilai filosofi yang sangat bagus dalam kehidupan.

 


Gambar 1 Batik Motif Merak Semawis (diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti)

Berdasarkan A Dictionary of Chinese Symbols, burung merak merupakan lambang keagungan, keindahan, pelindung keturunannya dari segala bahaya, serta dapat mengusir pengaruhpengaruh buruk. Oleh karena makna yang bagus itu, gambar burung merak sering digunakan sebagai hiasan busana kebesaran pejabat-pejabat kerajaan. Rumpun bambu, yang dalam bahasa Cina disebut zhu, adalah lambang permohonan doa. Pohon bambu juga memiliki ruas-ruas yang merupakan simbol silsilah. Jika ruas yang paling bawah bagus, ruas-ruas di atasnya pun bagus. Kondisi ini melambangkan bahwa orang tua yang bagus akan menurunkan juga anak-anak yang bagus. Selain itu bambu dapat hidup di segala iklim serta cuaca. Sifatnya ini menjadi lambang kemudahan dalam menempuh kehidupan. Oleh karena makna simbolis yang sangat bagus itu, gambar burung merak dan rumpun bambu sering digunakan sebagai ragam hias pada kain, kaca-kaca, dan kartukartu ucapan. Berikut ini dikemukakan contoh batik Semarang dengan motif merak dengan latar anyaman bambu, dan daun asam. Warna dasarnya kuning -oranye, dan motifnya berwarna coklat serta merah. Warna merah-oranye merupakan salah satu karakter batik tradisional Semarang.



Gambar 2. Batik Motif Puspita Sari (diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti).

motif batik yang mengekspresikan perpaduan antara motif batik vorstenlanden
(daerah pedalaman/kerajaan Yogyakarta dan Surakarta) dan pesisir. Motif campuran ini dapat disaksikan pada produk batik “Batikkerij Tan Kong Tien”. Perpaduan budaya ini dapat dipahami mengingat bahwa keluarga Tan Kong Tien merupakan campuran antara orang Jogja dan Semarang, serta secara geografis letak Semarang dekat dengan Jogja, sehingga kedua unsur budaya itu tentu dapat saling mempengaruhi dan saling mengadaptasi.

Warna dasarnya tidak seperti warna batik Jogja yang cenderung kecoklatan
atau warna sogan, tetapi lebih bervariasi dan menyala seperti hijau, biru, ungu, dan merah. Warna-warna ini juga menjadi ciri batik pesisir. Berikut ini disajikan beberapa contoh motif batik Semarang yang diproduksi oleh Tan Kong Tien.





Gambar 3. Batik Motif Cempaka Rukmi (diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti)




Gambar 4. Batik Grinsing Amengku Bumi.

SIMPULAN

Dari penelusuran jejak-jejak sejarah dan motif batik Semarang dapat disimpulkan lima hal. Pertama, batik Semarang telah lahir sejalan dengan kebutuhan masyarakat Kota Semarang akan bahan sandang dengan motif atau corak yang disesuaikan dengan rasa, karsa, dan daya cipta para perajin atau masyarakat pendukungnya. Kedua, batik Semarang merupakan warisan budaya
yang khas dan unik, sehingga sangat potensial sebagai identitas budaya Kota Semarang, dan ketiga, semua upaya yang dilakukan untuk mengungkap sejarah dan menghidupkan kembali batik Semarang menunjukkan bahwa warga Kota Semarang masih peduli dengan kekayaan budaya lokal. Semangat dan tindakan mencintai budaya lokal sangat diperlukan untuk memperkokoh identitas dan kepribadian bangsa agar tidak terkikis oleh perluasan budaya global.

          Ada tiga saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian yang dituangkan dalam tulisan ini. Pertama, pengusaha batik perlu mengembangkan usahanya dengan semangat baru dan nilai-nilai baru. Semangat dan nilai-nilai baru itu dapat dibingkai dalam sistem manajemen yang profesional, seperti: pengembangan sistem produksi (mencakup: pendanaan, peralatan, bahan - bahan dasar, sumber daya manusia, desain-desain, dan lokasi usaha), peningkatan sistem promosi dan pemasarannya. Kedua, seluruh warga Kota Semarang seharusnya mampu mengangkat potensi batik Semarang sebagai salah satu identitas budayanya, karena sesungguhnya potensi budaya ini sangat berguna untuk mendukung peningkatan ekonomi dan pariwisata di Kota Semarang, serta untuk penguatan kepribadian bangsa, dan ketiga, Pemerintah
Kota Semarang seharusnya dapat memberikan perlindungan hukum bagi desain-desain motif batik Semarang melalui HAKI, untuk mencegah kemungkinan pengambilalihan atau pembajakan motif oleh pihak - pihak lain atau negara - negara lain.

Sumber: Jurnal “MENGUNGKAP SEJARAH DAN MOTIF BATIK SEMARANGAN” by: Dewi Yuliati

https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/paramita/article/view/1055
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

VC 7 POSTTEST : MASALAH KONKURENS

a. Jelaskan 2 metode untuk menjamin SERIALIZABILITY b. Pada Metode Locking  untuk transaksi terus menahan suatu kunci sampai dilepaskan s...